Senin, 15 Maret 2010

Tips dari Praktisi Perencana Keuangan

Kehidupan berkeluarga selalu menarik untuk disimak dan dipelajari karena adanya perubahan serta nilai-nilai yang dianut. Setiap orang atau individu memiliki keunikan dibandingkan dengan orang lain, baik itu berupa kekuatan maupun kekurangan. Selama kami menjalani profesi sebagai perencana keuangan keluarga, kami menemukan dua kelompok besar keluarga, yaitu secure dan insecure. Sebelum lebih jauh, kami ingin sedikit mengulas mengenai kedua hal tersebut, secure dan insecure.

Orang-orang yang secure adalah mereka biasanya memiliki hubungan kekeluargaan yang baik dan selalu melihat tujuan akhir dari semua rencana yang mereka buat. Perencanaan jangka panjang menjadi suatu keharusan dan mereka terbiasa untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut sehingga biasanya mereka terbebas dari utang yang berkepanjangan. Mereka selalu melihat sesuatu berdasarkan kualitasnya bukan hanya kwantitas. Itulah beberapa ciri dari orang–orang yang secure.

Pastinya tidak demikian pemaham Anda terhadap arti secure, sama dengan kami. Pada awalnya kami beranggapan bahwa orang-orang yang secure adalah orang-orang yang kaya. Ternyata tidak hanya sebatas itu. Kelompok secure, beranggapan bahwa uang bukanlah menjadi ukuran terpenting.

Sedangkan orang-orang yang insecure bisa dibilang kebalikan dari mereka yang secure. Lebih jelasnya, mereka yang insecure percaya bahwa ada hubungan langsung antara uang dan kebahagian. Mereka memiliki kekayaan atau pendapatan yang cukup tapi mereka selalu saja membelanjakan sebanyak atau malah lebih dari yang mereka hasilkan oleh karenanya mereka selalu dipusingkan oleh utang. Mereka selalu membeli sesuatu dengannya mereka berkeyakinan akan meningkatkan status mereka dihadapan orang lain.

Tapi bila melihat gambaran kedua kelompok ini, sebagian besar dari masyarakat berada diantara kedua kelompok ekstrim ini.

Selama kami menjalani profesi sebagai perencana keuangan, kami menemukan banyak hal yang berkaitan dengan pola pengelolaan keuangan. Berdasarkan hal itu, kami mencoba untuk mengembangkan pegangan bagi semua keluarga agar dapat menjalani kehidupan berkeluarga lebih baik lagi. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu Anda perhatikan dan pegang dalam pengelolaan keuangan Anda:

Waktu Adalah Sahabat Anda

Semakin awal Anda memulai untuk menyisihkan dana secara regular untuk tujuan masa masa depan Anda, akan semakin kecil dana yang Anda harus alokasikan setiap bulannya secara regular untuk mengembangkan jumlah aset Anda.

Sebagai contoh kami gunakan illustrasi, Andi dan Anita. Anita sudah memulai untuk menyisihkan secara regular setiap bulannya untuk tujuan masa pensiunnya disaat ia baru memasuki jenjang pernikahan. Saat ini usia Anita 24 tahun berencana untuk menyiapkannya sampai usia-nya memasuki 60 tahun. Dengan menyisihkan secara regular setiap bulannya sebesar Rp 1 juta dengan asumsi bunga yang diambil 12 persen per tahun, maka dengan rencana tersebut, Anita dalam 36 tahun akan memiliki aset sejumlah hampir mencapai Rp 7.3 miliar atau tepatnya sebesar Rp 7.259.250.000

Sedangkan Andi, usianya saat itu 28 tahun dan merasa bahwa ia masih terlalu muda untuk mulai menyisihkan utuk tujuan pensiun. Sehingga ia menundanya sampai usianya memasuki 40 tahun. Pada usia tersebut ia merasa sudah sepantasnya ia mulia mengumpulkan dana untuk tujuan pensiunnya.

Andi memulai menyisihkan dana sebesar Rp 2 juta setiap bulannya (dua kalilipat dari rencana Anita) sampai usianya memasuki 64 tahun. Andi masih memiliki waktu 24 tahun untuk mengembangkan asetnya. Pada saat usianya memasuki 64 tahun maka Andi akan memperoleh dana sekitar Rp 3,3 miliar atau lebih kecil dari aset yang dimiliki Anita. Selisih hampir Rp 4 miliar.

Besarnya selisih aset yang dimiliki Anita dan Andi dikarenakan oleh waktu yang dimiliki untuk berkembangnya nilai uang yang ada. Fakta yang dapat kita ambil adalah walau Andi menyisihkan dua kali lipat dari jumlah yang Anita alokasikan, dengan waktu yang lebih panjang, Anita dapat mengumpulkan lebih dari dua kali lipat dari apa yang dikumpulkan oleh Andi.

Jadi kesimpulannya adalah waktu menjadi sangat penting dalam pengembangan aset yang Anda miliki. Semakin cepat Anda memulai investasi akan semakin besar pertumbuhannya dengan asumsi tingkat suku bunga sama.

Kebiasaan Menunda Adalah Musuh Anda

Temuan paling penting dalam sejarah keuangan adalah bunga majemuk (compound interest). Prinsip bunga majemuk adalah, hasil bunga yang didapat dari investasi akan ditambahkan kembali ke investasi awal dan dibungakan kembali. Jadi hasil yang akan Anda peroleh dalam tahun-tahun mendatang bukan hanya dari investasi awal yang Anda tempatkan tapi juga dari bunga yang dihasilkan selama uang itu diinvestasikan.

Mari kita lihat ilustrasi berikut ini. Andi berusia 25 tahun, Tuti 35 tahun, dan Anto 45 tahun. Usia pensiun yang mereka inginkan adalah 55 tahun. Lihat perkembangan investasi dimana mereka menginvestasikan setiap bulan sejumlah Rp 1 juta dengan tingkat suku bunga 8 persen. Dalam kehidupan nyata, pajak berpengaruh dan menurunkan jumlah keuntungan yang bisa Anda peroleh.

Jelas terlihat dari tabel diatas, harga yang harus dibayar akibat kebiasaan menunda sangat mahal. Bila Anda menunda 10 tahun (usia Anda saat ini 25), dengan nilai investasi Rp 100 juta dan asumsi bunga 6 persen, di usia 55 tahun, Anda hanya memperoleh dana sekitar Rp 320 juta. Bila tidak menundanya Anda bisa memperoleh sekitar Rp 574 juta.

Sikap suka menunda-nunda bisa mempengaruhi Anda dalam berbagai hal, terutama yang berkaitan dengan keuangan. Dalam contoh di atas, kami hanya memberikan contoh bila Anda gagal untuk mulai menginvestaikan. Tapi sebenarnya sikap suka menunda juga juga berakibat fatal, misalnya dalam perencanaan proteksi. Bila Anda menundanya, dan terjadi musibah. Hal ini sangat mungkin merusak keuangan keluarga yang tadinya stabil dan teratur.

Satu-satunya tindakan yang harus Anda ambil adalah melakukan perencanaan keuangan keluarga yang menyeluruh sekarang. Jangan tunda lagi, berapapun usia Anda saat ini. Karena menunda keputusan seputar keuangan keluarga harus dibayar mahal di masa datang. Take action, now!!

Kebutuhan Vs Keinginan

Sebenarnya tidak ada batasan yang pasti untuk menentukan perbedaan antara kebutuhan atau keinginan. Mari kita mulai dengan mendifinisikan keduanya. Kebutuhan adalah sesuatu yang diperlukan oleh manusia sehingga dapat mencapai kesejahteraan, sehingga bila ada diantara kebutuhan tersebut yang tidak terpenuhi maka manusia akan merasa tidak sejahtera atau kurang sejahtera. Dapat dikatakan bahwa kebutuhan adalah suatu hal yang harus ada, karena tanpa itu hidup kita menjadi tidak sejahtera atau setidaknya kurang sejahtera.

Sedangkan keinginan adalah sesuatu tambahan atas kebutuhan yang diharapkan dapat dipenuhi sehingga manusia tersebut merasa lebih puas. Namun bila keinginan tidak terpenuhi maka sesungguhnya kesejahteraannya tidak berkurang.

Namun demikian, yang namanya kesejahteraan dan kepuasan juga sangat relatif bagi setiap orang. Sedangkan kami berpendapat bahwa untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan, harus dilihat dari segi fungsinya. Sesuatu dikatakan sebagai keinginan kalau sudah merupakan tambahan atas fungsi utamanya.

Misalkan mobil sebagai alat transport, mungkin itu sebagai kebutuhan karena fungsinya sebagai alat transportasi. Tapi aksesoris tambahan untuk mobil tersebut, misalkan velg racing, tape dan lain-lain bukan untuk menambah kenyamanan atau keamanan berkendara, tapi hanya sekedar mempercantik penampilannya saja. Saya rasa itu bukan kebutuhan, itu cuma keinginan saja. Dan keinginan ini bisa ditunda kalau semua kebutuhan yang lain sudah terpenuhi dengan baik.

Walaupun mungkin kini Anda merasa mampu untuk memenuhi semua keinginan Anda, tapi kita tetap harus bijaksana, jangan sampai lupa akan kebutuhan/ tujuan di masa yang akan datang. Kita harus mempersiapkan dana pensiun kita agar bisa menikmati hari tua dengan tenang, kita juga harus mempersiapkan dana pendidikan bagi anak-anak kita, dan itu semua adalah kebutuhan masa depan yang harus disiapkan sejak sekarang. Yang harus diingat adalah, jangan sampai memenuhi keinginan dengan mengabaikan kebutuhan atau tujuan keuangan jangka panjang yang diprioritaskan. Oleh karenanya memiliki perspektif jangka panjang dalam hal keuangan keluarga harus diperhatikan.

Lebih Mudah Mengontrol Pengeluaran daripada Menambah Pendapatan

Kebanyakan keluarga pada umumnya lebih menfokuskan untuk meningkatkan penghasilan baik dengan bekerja lembur atau bekerja dihari libur. Hal ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap hubungan Anda dan keluarga, karena Anda harus di luar rumah sepanjang hari, bukan hanya hari kerja tapi hari libur juga.

Mereka selalu beranggapan bahwa dengan penghasilan besar maka akan dapat memenuhi semua kebutuhan maupun keinginan keluarga. Tapi mereka lupa, bahwa mata uang memiliki dua sisi, ada arus masuk serta arus keluar. Dalam hal mencapai kesejahteraan keluarga, kedua hal ini adalah arus masuk keuangan keluarga serta aliran keluar uang dengan membelanjakannya menjadi sangat penting. Keseimbangan keduanya menjadi tolak ukur utama untuk mencapai kebebasan finansial atau kelompok secure tadi.

Menabung Membuat Anda Kaya, Bukan Penghasilan Anda

Tidak seorang pun menjadi kaya hanya karena penghasilannya besar. Kekayaan menjadi nyata bila Anda menyimpan atau menyisihkan dana setiap bulannya dan diinvestasikan. Banyak orang berpikir “bila saja saya menghasilkan lebih banyak maka semua keadaaan akan lebih baik”, mungkin benar atau malah sebaliknya, tambah amburadul

Realitanya, dengan meningkatnya pendapatan pasti akan selalu dibarengi dengan kenaikan standar hidup atau gaya hidup. Sehingga Anda akan tetap membutuhkan hampir semua penghasilan bulanan yang Anda peroleh dengan kerja keras. Oleh karena itu, poin ketiga yaitu membedakan antara kinginan dan kebutuhan menjadi sangat penting. Kenyataannya, bila individu atau keluarga gagal merencanakan menabung (saving plan) maka mereka hanya akan menambah hutangnya.

Sangat tidak benar bila Anda berpikir bahwa kekayaan akan datang dengan sendirinya karena penghasilan Anda besar. Anda harus berubah menjadi lebih baik dan lebih bertanggung jawab. Dalam kaitannya dengan keuangan, banyak orang beranggapan bahwa ia bisa melakukan kesalahan dengan menggunakan semua penghasilannya untuk keperluan bulanan dan nantinya akan membetulkannya bila penghasilannya meningkat.

Jadi Anda sangat percaya bahwa dengan penghasilan Anda yang tinggi akan merubah keadaan keuangan Anda di masa datang. Percaya dengan kami, bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi bila prilaku Anda terhadap uang tidak pernah berubah. Jangan belanjakan seluruh penghasilan bulanan Anda. Sisihkan dan investasikan untuk masa depan.

Demikianlah beberapa hal penting yang menurut hemat kami bisa menjadi pegangan keluarga dalam mengelola keuangannya. Jadi dapat disimpulkan bila Anda ingin menjadi kaya (dalam artian material) atau secure di masa datang perhatikan bahwa waktu adalah teman Anda, lakukan sekarang jangan tunda lagi. Sikapi perbedaan keinginan dan kebutuhan dengan bijak dan dua hal lainnya adalah Anda mengubah perilaku Anda terhadap uang atau perubahan pada diri Anda sendiri dan tingkatkan persentasi tabungan Anda.

Semoga bermanfaat n

Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar