Senin, 24 Mei 2010

Batik Priangan: Tradisi dan Sejarah yang Berlanjut

"Memangnya di Tasik ada batik?" Pertanyaan itu kerap diucapkan pengunjung pameran kepada perajin batik dari Tasikmalaya. Begitu pun terhadap batik ciamis dan garut, yang juga memiliki tradisi panjang dalam olah seni batik di tanah Priangan.

Akibat meredupnya pamor batik khas dari Tatar Sunda itu, baik karena berubahnya selera masyarakat maupun lantaran serbuan kain tekstil bercorak batik, selama beberapa dekade keberadaan batik priangan seperti dilupakan. Sebagai seni kerajinan yang tumbuh di sejumlah daerah pedalaman Jawa Barat, khususnya di Priangan Timur, batik priangan bahkan pernah dikabarkan akan punah.

Akan tetapi, kini pertanyaan bernada menggugat sekaligus kekhawatiran punahnya salah satu warisan budaya bangsa itu tak perlu lagi terlalu dirisaukan. Paling tidak, saat ini ada sekitar 30 perusahaan batik di Cipedes, Kota Tasikmalaya, dan 10 perusahaan batik di Sukapura, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya, tengah gencar menancapkan bendera bisnisnya. Begitu pun di Garut dan Ciamis.

Peminat batik yang berada di Jakarta, mulai hari Jumat (21/5) besok, bahkan dapat mengamati dari dekat ragam batik dari Priangan itu dalam sebuah pameran khusus di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Jalan Palmerah Selatan, Jakarta. Pameran dibuka Kamis malam ini, pukul 19.30, dan akan berlangsung hingga hari Minggu nanti.

Budaya Agraris
Sesungguhnya, Tasikmalaya memiliki tradisi dan sejarah batik yang kuat. Masa keemasan batik tasik berkisar tahun 1950-1960-an, bersamaan dengan kejayaan Koperasi Mitra Batik yang didirikan tahun 1939. Saat itu, kata Cacu (60), pemilik batik Agnesa, sebuah perusahaan memiliki pekerja batik cap minimal 50 orang.

"Dulu, kain batik masih dipakai untuk sarung. Kalau di Karawang panen raya, misalnya, pengusaha batik dari Tasik membawa berapa pun batik ke sana pasti laku. Batik dipakai ibu-ibu sehari-hari, termasuk pergi ke sawah," tutur Cacu.

Koperasi Mitra Batik sendiri muncul sebagai jawaban dari kegelisahan para pengusaha batik di Tasikmalaya terhadap perdagangan kain mori dan obat pewarna yang dikuasai pengusaha keturunan Tionghoa. Koperasi ini, di tahun 1960-an, menjadi produsen kain mori terbesar se-Indonesia dan memiliki ribuan karyawan.

Salah seorang saksi sejarah batik tasik adalah Latifah. Perempuan yang kini berusia 85 tahun itu belajar membuat batik tulis yang halus sejak usia belasan tahun. Kala itu, ia diajarkan langsung oleh ibunya. "Mereka yang dulu belajar menulis batik bersama-sama dengan saya sudah banyak yang meninggal," ungkap perempuan yang biasa dipanggil Mak Ipoh dan hingga kini masih membatik.

Tidak hanya di Tasikmalaya, tradisi dan sejarah batik pun ada di Garut. Menurut Darpan Ariawinangun, penulis buku Seputar Garut, kebiasaan membatik memang sudah lama ada di Tatar Sunda. Dalam naskah Sunda kuno, Siksa Kanda Ngkaresian, pernah disinggung motif-motif batik yang ada.

Bahkan, akhir abad ke-19, KF Holle, juragan perkebunan teh Waspada, di Cikajang, Garut, sempat membuka industri batik di perkebunannya. Mengutip sebuah buku perjalanan wisata bagi turis-turis asing berjudul Garoet en Omstreken, Darpan menambahkan, pada 1920-an batik garutan sudah dijadikan buah tangan khas yang kerap dibawa orang sepulang dari Garut.

Beberapa waktu lalu, ketika kaintekstil bercorak batik (printing) marak, batik tasik tidak mampu bersaing. Meskin masih berproduksi dalam jumlah terbatas, agar tetap bertahan, pemasaran batik tasik ada yang diserahkan kepada pengusaha di luar daerah sehingga orang lainlah yang punya nama.

Sebagian besar masyarakat Priangan Timur bekerja di bidang pertanian. Jika tidak menggarap sawah, mereka punya kebun atau ikan di kolam yang harus dipelihara. Aktivitas keseharian ini yang ikut memengaruhi corak dan batik dari wilayah Priangan Timur. Apa yang mereka lihat di sawah, ladang, atau kolam kemudian dituangkan menjadi motif di atas kain mori. Tidak heran apabila motif batik dari Priangan didominasi oleh flora dan fauna.

Pada batik tasik, misalnya, ada awi ngarambat (bambu merambat), merak ngibing (merak menari), laba-laba, burung keladi, gurami, dan daun talas. Pada batik garutan, selain flora dan fauna, ada juga motif-motif geometrik, seperti belah ketupat.

Tradisi membatik dan budaya agraris ini pada akhirnya ibarat dua sisi mata uang. Ketika tiba panen padi atau musim tanam, para pembatik akan ke sawah dan menunda sementara pekerjaan membatiknya.

Perilaku membatik seperti ini pun, kata Ecin Kuraesin (60), perajin batik dari Sukapura, masih berlangsung hingga kini. Para pembatik di tempat Ecin memiliki sawah garapan masing-masing. Ketika musim panen atau tanam tiba, mereka tidak bisa dihalangi untuk tidak pergi ke sawah. Dengan demikian, praktis kegiatan membatik pun ditunda sementara.

Meskipun sama-sama berada di Tasikmalaya, terdapat perbedaan corak warna antara batik dari Tasik dan batik dari Sukapura. Warna batik sukapura hanya terbatas pada merah marun, putih, hitam, dan gading. Sebaliknya, permainan warna pada batik tasik dan garut cenderung lebih berani. Warna-warna cerah sesuai permintaan pasar tak canggung diterapkan. Supriyadi Harmaen dari Dimas Batik berpendapat, warna cerah pada batik tasik seolah cerminan masyarakat Sunda yang periang.

Perkembangan fashion harus diakui telah membawa berkah bagi pelaku usaha batik priangan. Semakin beragamnyapenggunaan kain batik, tak hanya untuk sarung seperti dulu kala, bisa meningkatkan permintaan kain atas batik. Penghargaan masyarakat terhadap warisan kebudayaan bangsa akan jadi kunci keberlangsungan tradisi dan sejarah batik di Priangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar