Sabtu, 29 Mei 2010

Bocah Tewas akibat Bius Tambal Gigi

Genap tujuh hari Jacobi Hill (6) meninggal dunia. Ia tewas setelah menjalani prosedur pemasangan mahkota (crown) gigi tiruan di klinik gigi yang dimiliki Virginia Commonwealth University, Selasa (11/5/2010). Menurut sang nenek, Corolyn Suggs, ketika dokter sedang memasang mahkota gigi, Jacobi terkena serangan jantung dan meninggal.

Dalam pernyataannya, pihak universitas mengatakan tengah melakukan investigasi mendalam dan otopsi untuk mencari penyebab kematian yang mengejutkan itu. "Prosedur anestesi selama pengerjaan gigi sudah sesuai dan petugas kesehatan juga langsung datang segera setelah terjadi serangan jantung," katanya.

Pemasangan mahkota gigi sering dilakukan dokter jika gigi sudah sedemikian rusak sehingga tidak bisa ditambal dengan tambalan kecil. Pada prosedur ini, dokter akan membuang bagian gigi yang rusak dan menyiapkan gigi untuk dibungkus mahkota palsu.

Proses penambalan gigi dengan mahkota gigi palsu dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi. Namun, prosedur ini bisa membuat anak-anak rewel dan tidak tenang. Hal ini tentu akan menyulitkan dokter sehingga terkadang dokter gigi memberikan suntikan bius lokal.

Sebuah studi menyebutkan, obat bius propofol dipakai lebih dari 25.433 prosedur gigi pada anak, tetapi mayoritas mendapatkan obat bius itu untuk pemeriksaan MRI (magnetic resonance imaging).

Sekitar 6 persen prosedur anestesi menimbulkan komplikasi, tetapi sangat jarang yang menyebabkan kematian. Para ahli menduga, penggunaan obat bius propofol pada anak sering berlebihan. "Sebenarnya masih ada metode lain yang bisa dipakai," kata Dr Lonnie Zeltzer, ahli anestesi anak dari University of California, Los Angeles.

Pada umumnya obat anestesi tidak bersifat alergik. "Secara statistik, sangat jarang terjadi komplikasi berbahaya dari prosedur anestesi," kata Zeltzer. Namun, ia menegaskan, ada kemungkinan terjadinya respons individu yang hipersensitif terhadap obat.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Anesthesia and Analgesia menyebutkan, sejak tahun 1998-2004, tercatat ada 193 kasus serangan jantung pada anak ketika mereka sedang dibius.

Dr Eduardo Fraifeld, Presiden American Academy of Pain Medicine, mengatakan, tugas dokter anestesi bukan cuma menentukan dosis yang tepat untuk membuat seseorang tidak sadar dan bebas rasa sakit, tetapi juga harus selalu memonitor tanda-tanda vital selama terjadinya operasi.

"Dokter anestesi juga perlu memonitor napas, detak jantung, respons pasien pada stimulasi, darah yang terbuang, pengeluaran urine, dan memonitor obat. Banyak hal yang harus diawasi dalam sekali waktu," kata Fraifeld.

Oleh karena itu, ada prosedur standar sebelum melakukan tindakan medis, yaitu melakukan informed consent, memberi penjelasan mengenai tindakan yang akan dilakukan termasuk risikonya, serta meminta persetujuan pasien/keluarganya.

Selain itu, menanyakan obat apa saja yang diminum dalam waktu dekat untuk mengetahui adanya obat yang bisa berinteraksi dengan obat anestesi. Jika ada keraguan, darah pasien perlu diperiksa untuk mengetahui adanya sisa obat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar